Rabu, 20 Juni 2012

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN METODE DISKUSI

 
Oleh
Sumigiyati
(Mahasiswa PGSD FKIP UNTAN)
Abstrak: Metode diskusi merupakan salah satu metode untuk menyampaikan pembelajaran. Penggunaan metode diskusi sebenarnya bukan saja sebagai salah satu penyampaian materi pelajaran kepada siswa yang bersifat problematis, tetapi juga melatih anak dalam kehidupan sehari-hari untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi dan membentuk kompetensi-kompetensi sosial yang dibutuhkan. Dalam metode diskusi ini, siswa diharapkan lebih aktif dan mampu memecahkan masalah. Tidak hanya itu, tetapi dengan menggunakan metode diskusi ini juga dapat melatih siswa berbicara di
depan banyak orang, menghargai pendapat orang lain, serta mengeluarkan pendapat.

Kata Kunci: pembelajaran, metode diskusi, bahasa Indonesia

Pendahuluan


Metode diskusi diartikan sebagai cara “penyampaian”  bahan pengajaran yang melibataktifkan siswa untuk berbicara dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis. Guru, peserta dan atau kelompok siswa memiliki perhatian yang sama terhadap topik yang dibicarakan dalam diskusi.
Metode diskusi dapat mendorong siswa untuk berdialog dan bertukar pendapat baik dengan guru maupun teman-temannya sehingga mereka dapat berpartisipasi secara optimal tanpa ada aturan-aturan yang berlaku keras namun tetap mengikuti etika yang disepakati bersama. Menurut Suparlan (2007) diskusi dapat dilaksanakan dalam dua bentuk yakni diskusi kelompok kecil dan diskusi kelas. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, diskusi dapat membantu terjadinya komunikasi dua arah.
Selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, pembe-lajaran bahasa indonesia juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar untuk memperluas wawasan dan mempertajam kepekaan perasaan siswa. Oleh karena itu, tujuan penerapan metode diskusi lebih ditekankan pada aspek keterampilan berbicara. Dengan demikian, pembelajaran bahasa tidak hanya sekedar mendengarkan guru menerangkan saja, tetapi diperlukan keaktifan siswa di dalam proses belajar mengajar, sehingga terjalin interaksi baik antara siswa dengan siswa maupun dengan guru.
Sesuai dengan uraian di atas, maka yang menjadi masalah dalam artikel ini adalah “Bagaimana pembelajaran bahasa indonesia dengan menggunakan metode diskusi?”. Berdasarkan masalah umum diatas penulis merumuskan menjadi beberapa masalah sub-sub masalah, yaitu:
1.      Bagaimana proses pembe-lajaran bahasa indonesia dengan menggunakan metode diskusi?
2.      Bagaimana langkah-langkah pembelajaran dengan meng-gunakan metode diskusi?
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, tujuan umum penulisan artikel ini adalah “untuk mendeskripsikan pembelajaran ba-hasa indonesia dengan menggunakan metode diskusi”. Berdasarkan tujuan umum tersebut, penulis menjabarkan menjadi beberapa tujuan khusus, yaitu:
1.      Untuk mendeskripsikan pro-ses pembelajaran bahasa Indonesia dengan meng-gunakan metode diskusi
2.      Untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembela-jaran melalui metode diskusi.


Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Metode Diskusi
Dalam KBBI (1980) metode mengandung arti cara yang teratur dan terpikir untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan), cara bekerja konsisten untuk me-mudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. T.Raka Joni (1993) mengartikan metode sebagai cara kerja yang bersifat relative umum yang sesuai untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga metode dapat diartikan sebagai cara atau jalan untuk menyajikan atau melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.
Metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya, 2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk meng-implementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasi-kan strategi pembelajaran, diantara-nya: ceramah, demonstrasi, diskusi, simulasi, tanya jawab, pemberian tugas, kerja kelompok, karya wisata dan penemuan.
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Oleh karena pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk menginisiasi, memfasilitasi,dan me-ningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan jenis hakikat, dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran. Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi sosial-kultural dalam lingkungan masyarakat.
Istilah pembelajaran me-rupakan istilah baru yang digunakan untuk menunjukkan kegiatan guru dan siswa. Sebelumnya, kita menggunakan istilah “proses belajar-mengajar”. Menurut Gagne, Briggs, dan Wager (1992), pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Istilah pembelajaran mengacu pada segala kegiatan yang berpengaruh langsung terhadap proses belajar siswa. Kalau kita menggunakan kata “pengajaran”, kita membatasi diri hanya pada konteks tatap muka guru-siswa di dalam kelas. Sedangkan dalam istilah pembelajaran, interaksi siswa tidak dibatasi oleh kehadiran guru secara fisik. Siswa dapat belajar melalui bahan ajar cetak, program radio, program televisi, atau media lainnya. Tentu saja, guru tetap memainkan peranan penting dalam merancang setiap kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pengajaran merupakan salah satu bentuk kegiatan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran mengacu pada kemampauan atau kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran tertentu. Kegiatan pembelajaran mengacu pada penggunaan pendekatan, strategi, metode, dan teknik dan media dalam rangka membangun proses belajar, antara lain membahas materi dan melakukan pengalaman belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal.
Umumnya situasi belajar kreatif lebih banyak menuntut siswa untuk aktif untuk melakukan kegiatan fisik dan diskusi. Sebagai pengajar di kelas, kita tidak dapat menuntut siswa untuk duduk rapi dan diam ditempatnya masing-masing. Guru harus lebih toleran dan menyadari akan kesibukan siswanya. Namun, guru juga harus dapat membedakan antara kesibukan yang aktif dan diskusi yang produktif dengan kesibukan dan diskusi yang hanya sekedar ‘mengobrol’. Peran guru harus terbuka, mendorong siswa untuk aktif belajar dapat menerima gagasan siswa, memupuk siswa untuk memberikan kritik mem-bangun dan mampu memberikan penilaian terhadap diri sendiri, menghindari hukuman atau celaan terhadap ide yang tidak biasa, dan menerima perbedaan waktu dan kecepatan setiap siswa dalam menuangkan ide-ide barunya.
Pertanyaan yang me-rangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan divergen (terbuka). Pertanyaan seperti  ini dapat merangsang diskusi karena memiliki banyak kemungkinan jawaban. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka. Agar tampak manfaatnya, pertanyaan terbuka harus mencakup bahan yang cukup dikenal siswa. Oleh karena itu, guru pun disarankan untuk tetap berada dalam jalur tujuan instruksional dari suatu pokok bahasan.
Melalui diskusi kelompok, anak memperoleh pengalaman dan latihan mengungkapkan diri secara lisan dan berkomunikasi dengan orang lain. Diskusi memungkinkan pengembanmgan penalaran, pe-mikiran kritis, dan kreatif, serta kemampuan memberikan per-timbangan dan penilaian. Di lain pihak peran guru juga sangat penting karena ia harus menjadi fasilitator yang dapat mengenalkan masalah dan memberikan informasi yang diperlukan siswa untuk membahas masalah. Selain itu guru juga harus tahu pada saat kapan peran sertanya diperlukan, misalnya diskusi menjadi menyimpang dari materi yang harus dibahas umtuk menghindari kesalahan-kesalahan tersembunyi. Meskipun peran aktif dari siswa diperlukan, namun siswa juga tetap memerlukan bimbingan dan pengarahan sesuai bakat dan kemampuannya.
Pertanyaan-pertanyaan, seperti apa akibatnya ...,seandainya ..., umumnya pertanyaan yang dapat merangsang imajinasi siswa untuk menampilkan gagasan baru, khususnya penemuan baru. Guru yang mendorong proses pemikiran yang tidak hanya mengenai data yang sudah ada akan menghasilkan anak yang bukan hanya pelaksana, tetapi juga pemikir, penemu maupun pencipta.
Tujuan digunakannya dis-kusi kelompok ini adalah melatih siswa untu mengeluarkan pendapat, dan mau menerima kritikan kalau pendapatnya memang kurang benar. Melalui diskusi kelompok ini siswa dapat menguji kebenaran pen-dapatnya mengenai sesuatu hal.
Adakalanya dalam diskusi kelompok ini didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Untuk menghindari hal ini perlu adanya moderator yang dapat mengatur lalu lintas pembicaraan di dalam diskusi kelompok tersebut.
Keunggulan diskusi ke-lompok sebagai suatu teknik dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain berikut ini.
1.      Kadar CBSA-nya tinggi.
2.      Memberi peluang kepada siswa untuk saling mengemukakan pendapat.
3.      Mendorong terciptanya rasa kesatuan.
4.      Dapat memperluas pandangan siswa.
5.      Melatih mengembangkan ke-pemimpinan bagi siswa yang ditunjuk sebagai moderator.
Disamping keunggulannya, diskusi kelompok ini mempunyai kekurangan sebagai berikut.
1.      Tidak dapat digunakan secara efektif untuk kelompok yang besar.
2.      Kalau tidak terkendali dapat menyimpang dari dari tujuan.
3.      Membutuhkan moderator yang terampil.
4.      Adakalanya hanya didominasi oleh siswa-siswa yang suka dan berani bicara.
Disamping itu, metode diskusi dapat melatih siswa menghargai pendapat orang lain. Diskusi sebagai metode mengajar lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak memberi kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan kemampuannya, berpikir kritis, menilai perannya dalam diskusi, memandang masalah dari pengalaman sendiri dan pelajaran yang diperoleh di sekolah, me-motivasi dan mengkaji lebih lanjut. Melalui diskusi dapat dikembangkan keterampilan mengklarifikasi, meng-klasifikasi, menyusun hipotesis, menginterpretasi, menarik kesimpul-an, mengaplikasikan teori, dan mengkomunikasikan pendapat. Melatih keberanian untuk meng-utarakan pendapat, mempertahankan pendapat, dan memberi rasional sehubungan dengan pendapat yang dikemukakannya.
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Itulah sebabnya sejak diberlakukan kurikulum 1984 dalam pembelajaran bahasa digunakan pendekatan komunikatif. Dengan pendekatan komunikatif ini siswa harus diberi kesempatan sebanyak-banyaknya untuk melakukan komunikasi baik secara lisan maupun tulis. Supaya siswa mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik benar maka siswa perlu dilatih sebanyak-banyaknya atau diberi kesempatan sebanyak-banyaknya untuk melakukan kegiatan ber-komunikasi. Itulah sebabnya, dalam pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif, yang ditekankan adalah mengembangkan kompetensi komunikasi siswa untuk mendukung performasi komunikasi siswa.
Itulah sebabnya, mengapa metode diskusi sangat diperlukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, karena metode diskusi menjadikan siswa untuk berpikir secara rasional dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Metode diskusi juga memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapat, dan memberikan solusi terhadap masalah yang dibahas. Dengan demikian akan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran yang sedang ber-langsung.

Langkah-Langkah Pembelajaran Menggunakan Metode Diskusi
              Langkah-langkah diskusi sangat bergantung pada jenis diskusi yang digunakan. Hal ini dikarenakan tiap-tiap jenis memiliki karakternya masing-masing. Oleh karena itu, langkah dan atau prosedur pelaksanaannya berbeda satu dengan yang lainnya. Meskipun demikian, secara umum untuk keperluan pembelajaran di kelas, langkah-langkah diskusi kelas dapat dilaksanakan dengan prosedur yang lebih sederhana. Moedjiono, dkk (1996) menyebutkan langkah-langkah umum pelaksanaan diskusi sebagai berikut.
a.       Merumuskan masalah secara jelas.
b.      Dengan bimbingan guru, siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi, memilih pimpinan diskusi (ketua, sekertaris, pelapor), mengatur tempat duduk, ruangan, sarana, dan sebagainya sesuai dengan tujuan diskusi.
c.       Melaksanakan diskusi. Setiap anggota diskusi hendaknya tahu persis apa yang akan didiskusikan dan bagaimana cara berdiskusi. Diskusi harus berjalan dalam suasana bebas, setiap anggota tahu bahwa mereka mempunyai hak bicara yang sama.
d.      Melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasil tersebut ditanggapi oleh semua siswa, terutama dari kelompok lain. Guru memberi alasan atau penjelasan dari laporan tersebut.
e.       Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, dan guru me-ngumpulkan laporan hasil diskusi dari setiap kelompok.
Budiardjo, dkk (1994: 20-23) membuat langkah penggunaan metode diskusi sebagai berikut.
1.      Tahap persiapan
a.       Merumuskan tujuan pem-belajaran.
b.      Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas.
c.       Mempertimbangkan karakteristik siswa dengan benar.
d.      Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi: (1) menentukan dan merumuskan aspek-aspek masalah, (2) menentukan alokasi waktu, (3) menentukan format su-sunan tempat, (4) me-nentukan aturan main jalannya diskusi.
e.       Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi: (1) menggandakan bahan diskusi, (2) menentukan dan mengatur tempat, (3) mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan.
2.      Tahap pelaksanaan
a.       Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b.      Menyampaikan pokok-pokok yang akan di-diskusikan.
c.       Menjelaskan prosedur diskusi.
d.      Mengatur kelompok-kelompok diskusi.
e.       Melaksanakan diskusi.
3.      Tahap penutup
a.       Memberi kesempatan kelompok untuk me-laporkan hasil diskusi.
b.      Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi.
c.       Memberi umpan balik.
d.      Menyimpulkan hasil diskusi.

Penutup
Simpulan yang dapat diambil  berdasarkan uraian di atas adalah sebagai berikut.
1.       Diskusi sebagai metode pembelajaran adalah proses pelibatan dua orang atau lebih untuk saling bertukar pen-dapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pe-mecahan masalah sehingga didapat ke-sepakatan diantara mereka.
2.      Metode diskusi men-jadikan siswa untuk berpikir secara rasional dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Metode diskusi juga memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeluarkan pendapat, dan memberikan solusi terhadap masalah yang dibahas.
Saran yang dapat diberikan untuk mengefektifkan proses pembelajaran bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
1.      Sebelum memulai pembelajaran, seorang guru harus membuat perencanaan pembelajaran, memilih media yang dipakai, dan metode yang digunakan, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik bagi anak, salah satunya yaitu metode diskusi yang merupakan metode yang sangat efektif untuk dapat mengemukakan pendapat anak.
2.      Untuk kelancaran dan efektivitas diskusi, guru harus dapat mengatur jalannya diskusi. Oleh karena itu, guru harus mengetahui langkah-langkah diskusi sebagai pedoman dalam mengelola pembelajaran.


Daftar Pustaka

Santosa, Puji, dkk. (2009). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Solehan, T. W. , dkk. (2008). Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Winataputra, Udin S, dkk. (2007). Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar